maringkas bab 4 routing dinamis

https://drive.google.com/drive/folders/1DoA7nIPoLm8zPxUi8ET5YkVmh7iWWrs0?usp=drive_link


 BAB 4 ROUTING DINAMIS

A. Protokol Routing Dinamis

Sebelum membahas tentang routing dinamis, akan dijelaskan kembali tentang protokol routing itu sendiri, yang mungkin S pernah sedikit diuraikan dalam Bab 2. Protokol mendasari sebuah jaringan dalam berkomunikasi antar-host atau terminal, yaitu sebagai aturan baku agar setiap mesin menggunakannya sebagai acuan melakukan transmisi data. Protokol routing sendiri bisa dikatakan sebagai aturan standar yang telah ditetapkan dalam menentukan jalur terbaik untuk melewatkan paket data dan satu terminal ke terminal lainnya. Dahulu kala, pada saat internet pertama kali berkembang, protokol routing terdiri atas dua macam, yaitu sebagai berikut.

1. Exterior Gateway Protocol atau EGP

Protokol ini digunakan sebagai acuan komunikasi routing antara router yang berperan sebagai core jaringan dengan router yang lebih bersifat non-core seperti router independen yang berfungsi sebagai perangkat routing dalam jaringan internal.

2. Gateway to Gateway Protocol atau IGP

Tipe IGP lebih condong pada penerapannya sebagai protokol routing core internetwork router. Sebenarnya, materi tentang teknologi protokol routing telah disinggung pada Bab 2, tetapi dalam bab ini akan lebih diperjelas. Mengingat perkembangan software lebih pesat dibandingkan kemampuan hardware dalam memberikan support setiap transmisi data, tidak mengherankan jika acuan standar protokol routing juga berkembang pesat, Jika dilihat dari sisi cakupan protokol routing-nya, dapat dibedakan menjadi dua versi, antara lain sebagai berikut.

1. Tipe Exterior Routing Protocol

Istilah exterior memberikan pengertian bahwa tipe protokol ini dapat dimanfaatkan untuk komunikasi antar-independent router dalam jaringan skala besar. Mekanisme protokol ini bisa juga disebut dengan nama Exterior Gateway Protocol. Di antara protokol dinamis yang mengadopsi model protokol ini adalah tipe BGP untuk IP address versi 4, BGP versi 6, dan EGP.

2. Tipe Interior Routing Protocol

Tipe ini merupakan istilah lain untuk protokol IGP atau Interior Gateway Protocol, yang pada karakteristik utama dari protokol ini adalah kemandirian router dalam sistem jaringan atau sering juga disebut dengan independent network system atau autonomous system (AS). Beberapa jenis protokol routing dinamis yang termasuk kategori IRP adalah RIP, RIPv2, RIPng, dan EIGRP untuk pengalamatan IP address versi 6, IGRP, OSPF, OSPFv2, OSPFv3, IS-IS, dan IS-IS yang dialokasikan untuk jaringan dengan IP address versi 6.

Jika dilihat dari sisi algoritma proses terjadinya routing, protokol routing dapat dibedakan menjadi empat kategori, yaitu sebagai berikut.

1. Distance Vector

Tipe ini termasuk jenis protokol generasi awal dengan karakteristik utama sebagai berikut.

a. Perhitungan jarak atau distance

Informasi distance diperoleh dengan menghitung jumlah next hop yang dilalui paket data dalam sebuah rute jaringan berdasarkan informasi dari routing table perangkat router yang terhubung dengannya.

 b. Arah tujuan data dalam traffic data jaringan atau disebutdengan vector

Suatu kondisi yang memastikan bahwa data yang dikirimkan ke alamat tujuan akan sampai dengan cara melewati interface router.

c. Slow converge

Slow converge adalah performance protokol yang kurang responsive dalam merespons perubahan topologi jaringan.

d. Hanya memberikan support classfull routing protocol yang berarti tidak mendukung pengalamatan model VLSM dan CIDR.

e. Kurang cocok diterapkan pada jaringan berskala besar.

f. Menerapkan algoritma Ford dan Bellman dalam memproses routing data.

   Contoh: Appletalk RMP, IGRP, RIP, dan RIPv2.

2. Link State

Tipe ini merupakan generasi perbaikan dari distance vector dengan beberapa ciri khas sebagai berikut.

a. Model protokol ini telah mengadopsi beberapa faktor sebelum menentukan metric sebagai dasar acuan routing menentukan jalur terbaiknya, antara lain status koneksi, tipe koneksi, dan juga konfigurasi yang telah ditentukan oleh administrator.

Dikarenakan dalam penentuan jalur, tipe link state memperhatikan dan mempertimbangkan faktor status koneksi, protokol ini dapat memantau status link apakah dalam kondisi up atau sedang down (mati). Di samping itu, protokol ini juga dapat memperkirakan waktu yang dibutuhkan paket data sampai pada tujuan dengan cara memilih rute terbaik meskipun melewati banyak lompatan host.

b Fast converge atau kemampuan mendeteksi perubahan topologi jaringan dengan meng-update informasi rute jalur pengiriman paket data secara cepat

c. Mendukung sepenuhnya pengalamatan classless routing protocol, VLSM, dan CIDR.

d. Sangat sesuai apabila diterapkan pada jaringan berskala enterprise.

e. Menerapkan algoritme Dijkstra dalam menentukan rute pengiriman data.

f. Contoh protokolnya adalah IS-IS, IS-IS ipv6, OSPF, OSPFv2, dan OSPFv3.

3. Path Vector

Jika diperhatikan pada konsep kerjanya, path vector memiliki kemiripan dengan alqoritme distance vector. Hanya saja, informasi routing didasarkan pada destination address dan path description, untuk mempercepat sampainya data ke alamat tujuan. Algoritme Path Vector atau Bellman and Ford digunakan untuk memperhitungkan dan menghindari munculnya count to Infinity atau looping tanpa batas. Konsep utamanya adalah adanya router utama yang menyebarkan informasi path pada router tetangga, tidak lagi berdasarkan metric, contoh protokol BGP.

4. Hybrid Vector

Protokol ini bisa dikatakan sebagai kombinasi beberapa fitur protokol link state dengan distance vector, sebagai contoh EIGRP. Pada beberapa kasus, protokol hybrid lebih efektif ketika diterapkan pada jaringan dengan beberapa router yang memiliki spesifikasi interface yang sama, dengan catatan kemungkinan terjadinya perubahan topologi jaringan kecil. Namun jika menemui kondisi berbeda, misalnya terjadi perubahan topologi jaringan maka fitur teknologi link state akan lebih dominan dalam penerapannya.

Jika Anda perhatikan diagram urutan versi protokol routing pada gambar tersebut, pada dasarnya routing dibagi menjadi dua bagian yaitu statis dan dinamis. Pada protokol routing statis, penentuan jalur rute pengiriman paket data dilakukan secara manual oleh administrator jaringan tanpa memperhatikan aspek apapun seperti bandwidth, link koneksi, dan lainnya. Adapun routing dinamis cenderung lebih fleksibel dan lebih efektif dalam menentukan jalur terbaik rute yang akan ditempuh ketika melewatkan paket data.

B. Routing Information Protocol (RIP)

Protokol RIP memungkinkan perangkat router selalu berkomunikasi dengan sesama perangkat router lainnya menggunakan metode distance and vector, ketika saling bertukar informasi routing melalui mekanisme pengiriman information of routing update melalui interface pada router. Informasi tersebut mengandung deretan informasi yang merepresentasikan subnet dan metric, Konsep metric sendiri dalam menentukan jalur terbaik berdasarkan jumlah lompatan dengan ketentuan paling banyak 15 hop. Oleh karena itu, RIP (Routing Information Protocol) adalah jenis protokol routing yang termasuk kategori distance vector routing.

Lihat topologi gambar jaringan tentang Proses RIP sebelumnya, Router1 akan mengirimkan advertise routing pada Router2. Oleh Router2, serial 0 akan di-update informasi routing sebagai interface outgoing dari setiap paket data LAN di bawahnya. Karena itu, IP address 192.168.100.1 akan dijadikan next hop dalam pengiriman paket data, Syarat utama dalam proses update informasi di Router2 adalah Router1 harus memiliki nilai subnet mask yang sama. Jika berbeda, proses update informasi routing di Router2 tidak berhasil dengan baik karena RIP tidak menyertakan informasi subnet mask, sebab dianggap sebagai sebuah classfull address atau menggunakan subnet mask default. Dengan kata, lain RIP tidak memberikan support VLSM dan CIDR.

Berikut konsep dan karakteristik dari distance vector routing.

1. Perangkat router secara otomatis menambahkan informasi network ID dalam routing table di mana ID network tersebut memiliki subnet default classfull. Semua network tersebut teregistrasi dan terhubung langsung dengan interface router.

2. Informasi tentang routing update dikirimkan melalui interface router dalam rangka meng-advertise router yang tersimpan dalam tabel routing.

3. Router yang menerapkan protokol RIP selalu listen dan meng-update tabel routing-nya bersumber dari router tetangga.

4. Informasi routing berisi alamat network dan metric.

5. Terkadang dalam menyiarkan informasi routing-nya, perangkat router memanfaatkan teknik broadcast atau multicast sehingga semua perangkat router akan memperoleh informasi routing update yang sama dalam sekali waktu.

6. Apabila menghadapi kasus pemilihan jalur rute pengiriman data dengan nilai subnet yang sama maka akan dipilih berdasarkan metric (terendah).

7. Pengiriman informasi update routing dilakukan secara periodik.

8. Apabila router mengalami kegagalan pada saat menerima update dari router tetangganya dalam waktu tertentu, akan mengakibatkan informasi routing yang telah diterima dari router tetangganya akan dihapus.

9. Analogi kerja RIP adalah jika router A dianggap memiliki informasi routing kemudian di-advertise oleh router X maka router pada hop berikutnya pada router A adalah router X.




















































Comments

Popular posts from this blog

Membuat Jaringan WPAN

Praktikum Instalasi VoIP Trixbox

KONFIGURASI VLAN TRUNKING dengan packet tracer